Diary · Renungan

Tulus

Ketulusan, bagiku adalah mengenai ‘memberi lalu melepaskan’.

Seperti saat kita melihat seorang teman dalam kesulitan. Lalu kita menawarkan bantuan untuknya. Tetapi, ia malah menjawab, “Aku tidak butuh bantuan darimu”.

Reaksi kita setelah menerima penolakan itulah yang membedakan apakah kita tulus atau tidak. Orang yang tidak tulus akan merasa kecewa dan marah, menyesal telah menawarkan bantuan. Dan, merasa jera untuk menawarkan bantuannya kembali.

Tetapi, orang yang tulus, mungkin merasa sedikit kecewa karena niat baiknya ditolak. Tapi, ia tidak pernah menyesal telah menawarkan bantuannya. Dan, tidak segan-segan untuk menawarkan bantuan kembali jika ia merasa temannya itu dalam kesulitan lagi.

Sama dengan saat kita memberi sesuatu kepada teman. Pada waktu kita memberi kita mengatakan bahwa kita tulus saat memberinya. Tidak mengharapkan balasan apapun. Benarkah demikian?

Bukankah saat kita dalam masalah, kita bertanya-tanya, “Kemana teman-teman yang dulu pernah kita tolong? Kenapa mereka tidak datang menolong kita?”.

Dan mulailah kita mengungkit-ungkit kebaikan. Mulai mengata-ngatai mereka tidak tahu membalas budi. Mulai berprasangka buruk. Kemana ketulusan yang dulu kita sebut-sebut itu?

Tulus, berarti memberi lalu melepaskan. Maksudnya, saat kita memberi, sedari awal kita telah melepaskannya dan tidak terikat lagi dengan pemberian itu. Saat orang yang kita beri pertolongan tidak membalas pemberian kita, hal itu tak akan pernah menyakiti kita.

Bagaimana? Apakah kita bisa melakukan itu?

One thought on “Tulus

  1. Aku menulis tulisan ini sebagai teguran untuk diriku sendiri. Suatu saat aku menyayangi seorang teman. Lalu, melakukan sesuatu yang kupikir dapat membantunya. Tetapi, ternyata ia tidak menerima bantuan dariku dengan baik. Awalnya aku marah, dan kecewa. Merasa dimanfaatkan dan dipermainkan. Tetapi, setelah merenung, aku sadar. Aku melakukannya karena aku memang ingin, karena aku sayang sama dia. Dan, ternyata walaupun diperlakukan seperti itu, aku tetap menyayanginya. Karena entah kenapa, aku pikir ia tidak melakukannya dengan sengaja untuk menyakitiku. Dan, aku tetap berharap yang terbaik terjadi pada dirinya. Maaf ya, aku telah berprasangka padamu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s