Cerita · Diary · Postingan GaJe

Bumerang

Sekelompok anak berkumpul di tengah lapangan sebuah kompleks perumahan.

“Habis ini kita main apa?”, tanya seorang anak kepada teman-temannya.

“Gimana kalau petak umpet?”, tawar kakakku.

“Jangan petak umpet lagi, ah. Bosan.”, seorang anak lainnya melontarkan keberatannya.

“Terus, apa dong?”, gumaman anak-anak terdengar.

Tiba-tiba kakakku mengepalkan tangan kanannya dan menumbukkannya ke telapak tangan kirinya seraya berujar, “Ah, aku tahu!”

Teman-teman yang lain segera saja mengerubunginya, “Main apa, Nuz?”

“Iya, main apa, Nuz?”, sahut-sahutan mereka berusaha membuat kakakku untuk segera mengatakan rencananya.

Kakakku tersenyum. “Kita main bumerang”, ucapnya penuh keyakinan.

Aku mencium gelagat tidak beres.

“Apa itu? Apa itu?”, tanya teman-teman antusias.

Dan, mulailah kakakku Nuzli, menjelaskan dengan gaya “Pakar”-nya alias “Apa-apa Dibuat Sukar”.

“Bumerang itu adalah senjata yang dimiliki oleh orang Aborijin di Australia. Mereka kalau berburu memakai alat itu. Bentuknya kayak huruf V. Kalau dilemparkan, setelah mengenai sasaran, bumerang bisa berputar-balik dan kembali kepada yang melempar”.

“Uwooohh”, anak-anak yang lain kagum dan ternganga mendengarkan penjelasan kakakku.

Sebenarnya, kakakku hanya mengulangi penjelasan Bapak, ayahku tentang bumerang.

“Aku punya di rumah.”, lanjut kakakku kemudian. Ada sedikit nada sombong di sana.

Nah, inilah yang kumaksud dengan gelagat tidak beres itu. Kutarik kakakku menjauh. Kumarahi dia, “Maksud Mas, bumerang dari Pak De itu? Jangan, Mas. Nanti Bapak marah kalau sampai tahu kita pakai bumerangnya”.

Kami memang memiliki sebuah bumerang di rumah. Hadiah dari Pak De-ku yang tinggal di Australia. Tapi masalahnya, Bapak sangat menghargai benda itu. Beliau pasti marah kalau tahu benda itu diusik, apalagi jadi benda permainan anak-anaknya.

Kakakku baru tersadar akan kesalahannya. Ia mengerutkan kening, berpikir bagaimana caranya agar rencananya dapat diteruskan tanpa dimarahi Bapak. Sejurus kemudian matanya bersinar cerah, ia pun tersenyum. Rupanya, ia sudah mendapatkan akal.

“Kalau begitu jangan dipakai. Kita pinjam saja”.

Giliran aku yang bingung. Melihatku bingung, ia berkata lagi, “Bapak masih punya potongan triplek, kan?”.

Aku tersenyum cerah. Aku mengerti maksudnya.

Kakakku kembali pada kelompok anak-anak itu yang masih saja berdengung gembira membicarakan bumerang. “Teman-teman, rencana berubah. Sebelum kita bermain bumerang, ayo kita membuatnya terlebih dulu.”

Dan, antusiasme yang tinggi pun menjadi semakin tinggi lagi.

Kami semua bergegas menuju rumahku dan kakakku. Rumahku sepi jika siang. Hanya ada seorang pembantu rumah tangga. Bapak dan Ibu bekerja sampai sore menjelang.

Sesampainya di rumah, dengan hati-hati kakakku mengambil bumerang yang terpajang di dinding ruang tamu. Aku mengambilkan pensil dan penggaris. Semuanya kami bawa ke halaman belakang dimana teman-teman telah berkumpul. Kami gabungkan peralatan itu dengan potongan triplek dan gergaji milik Bapak.

Pertama-tama, kakakku meletakkan bumerang yang asli di atas potongan triplek sebagai pola. Kemudian, ia menggunakan pensil, menggoreskannya di sekeliling bumerang asli untuk membuat cetakan di atas triplek. Setelah itu, cetakan dirapikan dengan penggaris. Setelah kami yakin, barulah kakakku bergantian dengan temannya menggergaji cetakan itu.

Akhirnya jadi. Bumerang palsu itu pun jadi.

Aku membandingkan mereka, yang asli dan yang palsu. Yang terbuat dari kayu (yang meyakinkan) dan yang terbuat dari (hanya) triplek. Aku tidak yakin ini akan berhasil.

Tapi, mereka semua tidak peduli. Tetap terlihat sama antusiasnya dengan sebelumnya.

“Ayo, kita coba!”, kata seseorang.

“Ya”, ujar yang lain.

Kami pun kembali ke tanah lapang tempat kami bermain tadi. Tidak lupa sebelumnya mengembalikan Sang Bumerang (asli) kembali ke tempatnya semula. Ditaruh dengan hati-hati agar tidak ketahuan pernah dipindahkan.

Sesampainya di lapangan, kami ribut menentukan darimana sebaiknya bumerang ini dilemparkan. Tak lama kemudian, setelah mendapat titik melempar yang pas, kakakku memberikan pidato singkat bak Bapak Bupati akan membuka peresmian suatu acara.

“Nah teman-teman, sebentar lagi bumerang hasil jerih payah kita bersama ini akan dilemparkan. Mari berdoa bersama-sama agar berhasil, ya”.

Kulihat beberapa anak komat-kamit tidak jelas.

Kakakku mengambil ancang-ancang untuk melempar. Anak-anak yang lain menahan napas.

Mas Nuzli dengan seluruh tenaganya melempar bumerang itu. Dan, di luar dugaan, bumerang palsu itu berhasil terbang. Ia melambung semakin tinggi dan semakin jauh. Kami semua terpana. Kemudian bersorak-sorai.

Namun, sorakan itu tak berlangsung lama. Pada satu titik terjauh dan tertingginya, tiba-tiba bumerang itu berputar-balik. Ya, kami memang tahu bumerang berputar-balik, tapi kami tak menyangka itu juga berlaku untuk bumerang palsu yang dibuat oleh sekelompok anak kecil.

Kami semua mulai panik dan berlari menyelamatkan diri. Tapi, tidak dengan kakakku. Ia hanya tertegun di tempatnya. Lalu, ia seperti tersadar. Bumerang itu pasti akan kembali ke pelemparnya. Segera saja ia melompat berpindah tempat, tepat beberapa saat sebelum bumerang itu menumbuk tanah, tempat ia berdiri tadi.

Anak-anak yang telah kocar-kacir,  terpana. Setelah dirasa aman, mereka mendekati bumerang itu, termasuk aku dan kakakku. Bekas tumbukannya di tanah menimbulkan lubang. Tidak besar, tapi cukup menggambarkan kalau kakakku tidak menghindar tadi, mungkin ada benjol yang cukup besar di kepalanya sekarang.

Sesaat kemudian kami semua seakan baru tersadar apa yang telah terjadi. Bumerang buatan kami berhasil. Ia berhasil terbang, melambung, dan berputar-balik. Persis seperti ceritanya. Kami pun bersorak-sorai bersama.

Note: Setelah tahu bahwa bumerang itu bukan cerita omong kosong, kami tak pernah mencobanya lagi. Kami tidak yakin kelak bisa menghindar atau berhasil menangkapnya saat ia kembali kepada pelemparnya.

2 thoughts on “Bumerang

  1. Hahaha.ceritanya lucu dan gaya berceritanya jg lucu.jd ingat masa kecil sya.waktu kelas 2sd sya jg buat bumerang dr tripleks bekas.tp 100% g bsa balik.yah maklum anak kcil blum paham fisika.rasa penasaran trus ada hingga kuliah.smua guru dan dosen serta buku2 kuliah tentang fisika sya pelajari tp gak ada satupun yg menjelaskan prinsip kerja bumerang dgn detail.sampai akhirnya sya menemukan jawaban dr misteri “fuck bumerang” (sya sebut bgitu krna frustasi gagal bikin bumerang selama 15 tahun lebih).semangat mulai membara lg dan iseng2 mencoba membuat bumerang lagi (gak kapok2).dgn bimbingan master bumerang (trims pak haryo ^_^ ) akhirnyaaa SAYA BERHASIIILL!!!

    HOREEE….

    1. Berarti kami benar2 beruntung waktu kecil, ya. Sekali buat langsung berhasil. Atau mungkin resep sukses membuat bumerang adalah, “Jiplak saja!”
      :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s