Cerita · Diary

Kenangan Saat SMP

Aku ingat saat masih SMP, ketika rinai hujan mulai turun saat bubaran sekolah. Beberapa anak siap membuka payung mereka. Banyak yang berteduh sambil berharap hujan akan segera reda. Dan, sebagian siswa lelaki yang nekad menerobos hujan. Aku ingat, ketika itu ku pandang awan kelam di atas sana, dan tebersit keinginan untuk hujan-hujanan. Tapi, aku ragu. Aku takut sakit.

Setelah maju-mundur beberapa saat, akhirnya kuputuskan, “Sudahlah, hujan-hujanan saja. Sakit itu urusan belakangan.”

Kulangkahkan kaki, menjejak tanah yang tergenang. Air hujan mulai membasahi pakaianku.

“Dingin”, pikirku.

Aku sedikit bergidik. Tetapi, rasa dingin itu terkalahkan oleh sensasi yang kemudian muncul. Aku merasa senang, antusias, bersemangat. Rasanya seperti terlahir kembali. Merasa bebas, merdeka.

Tiba-tiba, ada yang memanggilku.

“Mirna!”

Aku  menoleh ke arah suara itu berasal. Ternyata Indri.

Indri adalah temanku berangkat sekolah. Setiap hari dia selalu menjemputku di rumah dan mengajakku untuk berangkat sekolah bersama.

Saat itu, ia sedang berteduh di depan kantor kepala sekolah. Bersamanya, ada banyak siswa lain yang melakukan hal serupa. Indri bertanya padaku dengan setengah berteriak, berusaha mengalahkan deru hujan.

“Ngapain, Mir?!”.

“Mau pulang”, jawabku setengah berteriak pula.

“Hujan-hujan begini?”, tanya Indri tak percaya.

Sembari menyunggingkan nyengir khasku aku menjawab, “Iya. Justru asyik, kan.Udah ya, aku duluan.”

Aku tak mengajaknya karena menurutku Indri pasti akan menolak. Tubuh Indri lemah. Aku juga takut nanti dia masuk angin gara-gara aku. Lagipula, anaknya agak jijikan. Pasti tidak mau kotor berhujan-hujanan.

Sebelum aku melangkah pergi sempat ku lihat wajah Indri yang bimbang. Tiba-tiba…

”Mir, tunggu! Aku ikut!”.

Ia berlari menerobos hujan menuju ke arahku. Tangan kanannya sibuk memegangi tas cangklongnya yang bergoyang, sedangkan tangan satunya berusaha menutupi kepala agar tidak terkena air hujan. Usahanya sia-sia. Hujan turun terlalu deras. Segera saja ia menyadarinya dan menurunkan tangan kirinya itu.

Ia menghampiriku. Setelah dekat denganku, mungkin dia menyadari tampang tak percayaku. Memang benar, ketika itu aku agak shock. Bayangkan, seorang Indri rela mengotori dirinya untuk berhujan-hujanan.

Masih dilingkupi rasa tak percaya aku berjalan beriringan dengannya menembus rinai hujan yang semakin rapat.
Setelah beberapa ratus meter berjalan, kami mulai kedinginan. Ternyata hujan kali ini disertai angin yang cukup kencang.

Kami menggigil. Sudah tak sanggup berkata-kata lagi. Gigi rasanya gemeletuk.  Aku sama sekali tak pernah menyangka akan sedingin ini. Sekilas aku melirik ke arah Indri. Dia nampak bahagia sekali. (Hihi .. lucu juga)

Setelah berjalan selama 20 menit,  sampai juga aku di rumah. Rumah Indri kira-kira masih tiga puluh meter lagi dari rumahku. Jadi, terpaksa ia meneruskan perjalanannya sendiri untuk sampai ke rumahnya itu.

Keesokan harinya…

Alhamdulillah, aku sehat-sehat saja. Sakit yang kutakutkan tidak datang menyerangku. Mungkin karena aku bandel kali, ya. Istilah orang Jawanya tuh tamblek, kebal, tahan banting pokoknya. Makanya, hujan-hujanan begitu tidak membuatku masuk angin.

Lalu, Indri?

Dia terkena flu. Badannya demam tinggi. Pilek juga. Kasihan… aku jadi merasa sedikit bersalah.

Eh, tapi tahu nggak?

Pada kesempatan hujan-hujanan selanjutnya, tanpa ragu-ragu lagi dia berseru padaku, ”Mirna, aku ikut!”.

Duh, nggak ada kapok-kapoknya tu anak.

One thought on “Kenangan Saat SMP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s