Diary · Menulis

Twitter atau Facebook?

Aku memiliki akun di keduanya. Yang pertama kali kumiliki, tentu saja di Facebook (karena lebih nge-tren duluan dibanding Twitter).

Memiliki akun di Facebook atau FB awalnya sangatlah menyenangkan. “Bertemu” teman lama yang sudah tak terdengar kabarnya selama puluhan tahun, lalu kembali menyapa dan menjalin tali silaturahmi dengan mereka, sungguh tak ternilai. Apalagi, kemudian mereka men-tag foto-foto saat kami kecil dulu, saat SD, dan beberapa foto yang err… sebenarnya memalukan. But, it’s fun! :D

Setelah itu, ke tahap berikutnya, ikut kuis-kuis. Banyak kuis di FB yang sangat menarik untuk diikuti. Mau yang menguji tingkat kecerdasan (atau tingkat kebodohan?), ada. Mau yang berbau astrologi, ada. Yang berhubungan dengan psikologi, juga ada. Pokok e lengkap kap

Sebenarnya, ada banyak game online juga di FB. Tapi, aku tidak pernah memainkannya, walau banyak teman yang invite. Alasannya… pertama, aku bukan gamer dan kurang suka bermain game. Kedua, kalau pun nanti dicoba dan jadi suka, aku takut malah jadi ketagihan. Dan, kalau benar seperti itu, gawat… tagihan telepon bisa membengkak nanti. Jadi, aku cari aman saja. “Jangan coba-coba bermain api kalau tidak mau terbakar”, itu moto-ku (nyambung gak, sih?).

Okay, it sounds fun, doesn’t it?

Well, setelah lebih dari setahun ber-fesbuk ria, dan sudah mencoba banyak sekali kuis, kurasa aku baru melihat sisi gelap FB (syerem gak, sih?). Mulai banyak yang jualan (ini sah-sah aja, sih)… dan men-tag sembarangan tanpa ijin (what?!!). Walau bisa di-remove, tetap saja rasanya mengganggu. Dan, rasanya mereka percuma saja men-tag barang jualan mereka padaku, karena kemungkinan besar (besar sekali, tepatnya) aku takkan membelinya. :p

Tapi, yang lebih menggangguku adalah karena belakangan orang-orang terlalu mengumbar kehidupan pribadinya di FB. Aku jadi dipaksa tahu siapa yang sedang bertengkar dengan pasangan hidupnya, siapa yang mengumpat bosnya, siapa yang membenci hidupnya. *sigh*… too much information for me.

Aku tidak sembarangan add friend. Sebagian besar temanku di FB adalah orang yang ku kenal. Jadi, ada perasaan tidak enak jika me-remove mereka.

Lalu, aku membuat akun Twitter. Iseng saja. Penampilan Twitter lebih sederhana dibanding FB. Awalnya merasa canggung. Terbiasa dengan fasilitas FB yang lengkap, membuatku kagok ber-twit ria. Tapi, di Twitter aku bisa bebas follow siapapun, termasuk para public figure. Pada umumnya, mereka tidak mem-protect akun twitter mereka. Jadi tidak ada proses add-approve seperti di FB. Jika kita suka, langsung aja klik “follow”. Dan, ini yang paling kusuka dari Twitter… jika di tengah jalan kita berubah pikiran tentang seseorang yang kita follow, tinggal klik “unfollow”. Hooray!!!

Ternyata, menarik juga mengikuti para public figure di Twitter. Mereka betul-betul entertainer sejati. Lucu dan menyenangkan. Selain itu, aku juga mengikuti beberapa penulis. Walau twit-twit mereka seringkali membuat timeline-ku penuh (ya iyalah, namanya juga penulis), tapi semua tulisan mereka sungguh menginspirasi dan memotivasiku untuk lebih sering menulis, tentunya.

Jadi, kini aku tetap memiliki akun di FB maupun Twitter. Akun di FB tetap ku buka, karena toh aku membuatnya untuk menjalin silaturahmi kembali dengan teman-temanku.  Jika ada yang tidak berkenan di hatiku, kembali ke pasal 1 alias niatan semula (hehehe). Dan, yang di Twitter tetap jalan, untuk menginspirasiku tiap hari.

Yang mana lebih oke, Twitter atau Facebook? Ku rasa tergantung bagaimana kita menggunakan dan menyikapinya. Just enjoy them!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s