Diary · Menulis

Mejaku

Dia adalah sebuah meja dari kayu jati, hadiah dari Pakde untuk ayahku ketika ayah masih bujang. Oleh karena itu, bisa dikatakan jika umurnya telah melampaui umurku.

Saat ayah masih muda, meja ini menjadi alas tempat kerjanya. Ayah bekerja di bidang teknik sehingga katanya, meja ini dulu penuh dengan alat-alat seperti solder dan kabel-kabel. Setelah anak-anaknya lahir, meja ini menjadi saksi aku dan kakakku tumbuh. Ia menjadi sarana eksperimen kami. Setiap kami memperoleh stiker baru dari majalah anak-anak, meja ini adalah sasaran pertama untuk menempelkannya.

Sebenarnya entah kenapa, sejak kecil aku sangat menyayangi meja ini. Mungkin karena meja ini begitu bersahaja. Panjangnya hanya satu meter dengan lebar setengah meter. Ia berdiri sekitar satu meter dari atas tanah. Tebal permukaannya hanya 1,5 cm, dengan alas yang persis persegi panjang. Ia memiliki sebuah lemari kecil di sisi kanannya. Bentuknya sungguh kuno dan klasik, persis meja pak guru jaman dahulu kala.

Tetapi, walaupun begitu, aku sangat suka melihat alur-alur kayunya yang asli, mencium aroma kayu dari tubuhnya yang tak juga lekang, menyentuh kayunya yang sudah mulai berubah warna karena usia dan tidak terurus. Dan, meskipun hampir seluruh tubuhnya telah dipenuhi stiker, ia tetap tidak kehilangan kharismanya.

Saat ayahku yang bekerja di salah satu BUMN pensiun, kami diharuskan pindah dari rumah dinas. Kami pindah ke rumah kami sendiri di pinggiran kota. Rumah itu lebih kecil dari rumah dinas dulu sehingga barang-barang yang dulu muat masuk di rumah dinas, kini mengalami kesulitan masuk ke rumah baru. Beberapa barang akhirnya dihibahkan, sebagian ditempatkan di gudang, sebagian ditempatkan di luar karena sudah tidak mendapat tempat lagi.

Meja ini termasuk yang ditempatkan di luar. Sungguh nelangsa menyaksikan nasib meja kesayanganku ini. Jika hujan ia kehujanan, dan jika panas ia kepanasan. Debu dan tanah mulai akrab dengan dirinya. Dan saat perluasan rumah di bagian belakang, ia ikut terciprat adonan semen.

Dan, tibalah saat itu. Saat aku mengalami kebuntuan dalam menulis skripsi. Skripsi yang telah kukerjakan selama setahun tak kunjung selesai. Dua judul yang kuajukan ditolak. Semua ini membuatku merasa jenuh. Aku harus berbuat sesuatu, pikirku. Sesuatu yang sangat berbeda dari mengerjakan skripsi, sehingga rasa jenuh ini bisa hilang. Tetapi apa?

Kemudian aku teringat dengan meja favoritku itu. Kulihat ia telah berlumur lumpur (debu dan tanah yang bercampur sisa air hujan). Di sana-sini terlihat cipratan semen yang telah mengering. Dengan hati-hati, aku angkat Si Meja ke halaman. Di sana, ia kusemprot dengan air dan kusikat kuat-kuat untuk menghilangkan lumpur yang melekat. Kucongkel satu persatu noda semen yang menempel di tubuhnya. Setelah yakin bersih, kujemur di bawah sinar matahari.

Esoknya, dengan bekal amplas, aku menggosoknya untuk menghilangkan bekas stiker yang dulu aku dan kakakku tempel di tubuhnya. Selanjutnya prosesi pun dimulai. Mengamplas, memberi pelamir, mengamplasnya lagi, dan terakhir memberinya vernish lapis tiga, lalu ia kujemur selama tiga hari. Semua itu kulakukan berselang-seling dengan pengerjaan skripsiku.

Setelah semua proses itu, Si Meja terlihat seperti baru, kembali berwarna coklat dan mengkilap (pasti karena vernish rangkap tiganya). Dengan bangga kuperhatikan hasil kerjaku selama sebulan itu. Lalu aku tersadar, akan kutaruh dimana meja ini? Bukankah rumahku sudah penuh barang? Tetapi aku berpikir, “Tidak, meja ini harus bisa masuk ke kamarku, bagaimana pun caranya”.

Akhirnya, ia mendapat tempat di pojok kamarku, berdampingan dengan rak buku-buku koleksi pribadiku. Di atasnya kutaruh laptop kesayangan beserta foto favorit. Ia telah menjadi istimewa bagiku, karena bersamanya aku merenda hari-hari dengan menulis di atasnya. Ya, kini ia telah menjadi tempatku menulis. Dan, entah kenapa, di atas meja itu ide serasa berhamburan keluar dari kepalaku. Saat aku menulis di atas meja itu, waktu serasa berhenti dan aku pun terlarut. Meja itu telah menjadi tempatku merenung, teman berbagi cerita… inspirasiku.

Kini, nyaris tiada hari yang terlewati tanpa aku berucap padanya, “Baik, cerita apa yang akan kita bagi hari ini?”

Pojok Menulisku
Pojok Menulisku

7 thoughts on “Mejaku

  1. hahaha…lucu juga mbak kok bisa ndandanin meja gitu sih? ngamplas, vernish, dan lain2.. kamu cewek berbakat mbak Mir.. atau saking sayangnya sama si meja? :P
    setelah pakai meja itu lagi, skripsinya terus langsung jadi kah? :D
    kalau iya, brarti gak sia2 perjuangan 1 bulan membuat meja kuno itu tampak baru lagi..hehe
    salam kenal…aku Anggara

    1. Salam kenal juga… Maaf baru dibalas, ya :(
      Iya, langsung jadi soalnya stresnya sudah tersalurkan melalui meja itu. Hehehe… Meja itu meja dari sejak bapak masih bujang, jadi umurnya lebih tua dari umur saya sendiri. Sedari kecil sudah lihat meja itu di rumah, jadi sayang aja kalau sampai rusak gitu aja. :)

      1. Iya juga sih, sayang kalo dibiarin aja..
        Syukur2 bisa sampai ke anak cucu ya..biar jadi meja legendaris..hehe

      2. Itu harapannya! :D Keren kan kalau bisa sampai beberapa generasi. Kayak meja2-nya para presiden Amerika terdahulu. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s