Film · Postingan GaJe

Queen Seondeok (Ending)

The Great Queen Seondeok

Akhirnya kadorama (istilah untuk menyebut serial drama dari Korea) The Great Queen Seondeok (QSD) selesai juga diputar di Indosiar. Kemarin adalah episode terakhir dari 62 episode serial tersebut (mungkin setelah diputar di Indonesia bisa lebih, ya).

Sad ending… but, the best ending…
Gak bisa memikirkan akhir cerita yang lebih dahsyat dari ending QSD produksi MBC itu.

Sebenarnya, serial itu memang menggambarkan biografi ratu pertama Korea, semenjak ia lahir sampai meninggalnya.
Meski beberapa fakta menyimpang dari sejarah aslinya (untuk tahu sejarah aslinya, baca di sini), namun dapat dipahamilah, namanya juga untuk konsumsi televisi. Penonton kan gak sedang menonton National Geographic.

Banyak hal yang menyentuhku selama menonton serial ini. Naskah yang brilian (salut sama penulisnya). Karakter tokoh-tokohnya kuat, dan diperankan dengan sangat-sangat apik oleh para aktor dan aktrisnya (salut sama mereka plus yang meng-cast plus yang menyutradarai, tentunya).

Karakternya tidak hitam putih. Itu yang paling ku suka. Kalau di sinetron-sinetron Indonesia, jika ada karakter yang jahat, ya jahat aja. Plus kejam, bengis, bla…bla…bla… tanpa disebutkan mengapa mereka bertindak demikian. Dan, jika karakternya baik, wuah… baiknya melebihi malaikat. Gak pernah marah, dendam, walaupun teraniaya jungkir balik. Benar-benar gak manusiawi.

Sedangkan karakter di QSD begitu “abu-abu”, sehingga terus terang sulit untuk membenci suatu karakter antagonis. Misalnya Mishil.

Lady Mishil
Lady Mishil

Terang-terangan dia adalah tokoh ter-antagonis di QSD. Kejam, bengis, ambisius, rela membuang anak sendiri, semua demi tercapainya mimpinya untuk menjadi ratu di kerajaan Sila. Tapi, setelah meresapi pemikiran-pemikirannya, strategi yang ia susun, kita menjadi tahu bahwa ia memang memiliki kemampuan sebagai seorang pemimpin. Tetapi sayangnya, ia tak memiliki kesempatan untuk itu karena ia berasal dari kalangan rakyat biasa. Sedangkan, untuk dapat menduduki tampuk tahta haruslah seorang keturunan suci, alias keturunan langsung raja.

Lalu, ada Bidam. Tokoh antagonis terkuat kedua.

Bi Dam
Bi Dam

Ia adalah anak Mishil dengan Raja Jinji yang dibuang sejak bayi (karena bagi Mishil, ia tak mendatangkan keuntungan lagi baginya). Pribadi asli Bidam adalah seorang yang bengis. Ia dapat membunuh orang tanpa berkedip dan tidak merasa bersalah sama sekali. Hal ini membuat Muno, gurunya takut padanya dan menjauhinya. Merasa dibuang dan dijauhi membuat Bidam tidak mempercayai orang lain. Ia tidak memiliki kepercayaan diri bahwa ia pantas untuk dicintai. Seharusnya kita membenci karakter ini. Tetapi setelah kedatangan Deokman dalam hidup Bidam, pemirsa dibuat berpikir ulang tentang karakter ini. Ternyata, yang  sebenarnya Bidam butuhkan adalah dicintai dan dipercaya. Kepercayaan Deokman pada Bidam mampu menyentuh hati Bidam. Dirinya yang bengis dan ambisius (turunan dari Mishil, ibunya), mulai melembut hatinya. Dan, yang ia inginkan pada akhirnya hanyalah cinta Deokman.

Deok Man
Deok Man

Sayang sekali kisah mereka berdua berakhir dengan tragis. Bahkan, menurutku lebih tragis dari kisah Romeo & Juliet. Bagiku, cinta Romeo-Juliet adalah cinta yang egois. Mereka berdua mengorbankan segalanya, tanpa mempedulikan perasaan orangtua mereka, hanya agar dapat bersatu dalam kematian dengan cara bunuh diri (berarti bersatu di neraka dong, ya… bunuh diri kan dosa besar… :D ). Sedangkan, Bidam-Deokman mengorbankan cinta mereka berdua demi bersatunya Sila.

Eniwei, hal menarik lainnya yang patut diperhatikan adalah betapa terkenalnya para aktor-aktris setelah bermain di QSD. Di jejaring Facebook saja, banyak yang membentuk fans club baik untuk QSD sendiri maupun per pemainnya. Belum lagi di forum-forum yang lain. Bahkan, ada istilah terkenal “F4 QSD”, yaitu Yu Shin, Bi Dam, Al Cheon, dan Wyol Ya. Mereka adalah para pria yang menjadi pendukung utama dalam keberhasilan Deokman untuk naik tahta.

Kim Yu Shin
Kim Yu Shin
Wyol Ya
Wyol Ya
Al Cheon
Al Cheon

Tingkah laku para fans ini sungguh menarik dan kreatif. Selain rajin mengunggah foto dan video para artis pujaannya, mereka juga membuat karikatur bahkan komik sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap QSD.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan menonton dan masih juga terbayang-bayang hingga sekarang, QSD berakhir juga. Berharap akan diputar ulang lagi, sembari berkhayal ‘kapan ya, Indonesia bisa buat serial kolosal sebagus ini?’ :p

2 thoughts on “Queen Seondeok (Ending)

  1. gw suka ama analisis loe menilai smw karakter pemainx….sy cman pgn tau lebih rinci lagi tentang sjrah bidam yg ktx gk tercatat dlm sjrah..tentg siapa org tuanx? n yg terpntg apakah betul kisah percntaan antara dogman sm bidam betul2 sunguhan..dlm sjrah smoga.it betul.amin

    1. Dalam sejarah Korea (nyari di internet) hanya disebutkan kalau Bidam memberontak di akhir masa pemerintahan Seondeok. Pada waktu itu, Bidam memang sedang menjabat sbg Perdana Menteri. Ia memberontak karena merasa wanita tidak pantas untuk memimpin Sila. Memang tidak pernah disebutkan kalau ia keturunan dari siapa. Dan, Seondeok meninggal saat pemberontakan itu (tapi, tidak disebutkan kalau dia meninggal karena Bidam atau karena memang sudah sakit).
      Fakta menarik lainnya justru tentang Kim Yushin. Jika di serial disebutkan ia sepantaran dgn Deokman, menurut sejarahnya justru ia jauh lebih muda dari QSD. Ia adalah sahabat dan ipar dari pangeran Chunchu. Jadi, bisa dibilang lebih cocok jadi anaknya Deokman drpd kekasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s