Puisi

Menunggumu

menunggumu
dalam balutan waktu
serasa beku

tak ada kata
tak lagi rasa
hanya hampa

setiap saat mematung
setiap waktu merenung
layaknya terkungkung

menunggumu
selalu semu
selalu jemu

3 thoughts on “Menunggumu

  1. Hi Mirna, semoga sehat.
    Sorry, agak lambat mbalas pesanmu. Aku lg deman kompasiana, bertandanglah ke profilku di blog ini.

    Menurutku, bila puisi ini mencrtakan penantian yang tak berujung hingga dicekam kesepian, maka bait ;
    (tak lagi rasa
    setiap waktu merenung
    selalu jemu)
    jadi mengganggu, makna jadi bias, antara kesepian dgn kebosanan menunggu.
    harus ditutup ;
    setiap waktu mematung, terpasung dalam kehadiranmu yang semu.

    Bila maknanya kebosan menunggu,
    mengapa harus ada kalimat ; mematung, terkungkung?

    1. Puisi ini adalah mengenai sebuah penantian yg tak kunjung diraih. Membosankan, sekaligus sangat menginginkannya. Hingga jiwanya serasa terkungkung. Bahkan, saat ia menyadari penantian itu mungkin takkan berakhir, dan rasa itu pun telah sirna, tetapi ia tetap tak bisa menghentikannya. Karena pada akhirnya ia terbiasa dengan penantian ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s