Cerita · Diary · Renungan

Kebahagiaan

Malam itu, sama seperti malam-malam lainnya. Ibuku duduk di sofa ruang keluarga, membaca koran hari ini. Aku berjalan ke arahnya dan duduk di dekatnya.
“Bu”, panggilku.
Ibuku menoleh. Melihat wajahku yang ingin menyampaikan sesuatu, ia segera melipat koran yang sedari tadi dibacanya. Wajahnya menatapku, siap untuk mendengarkan.
Aku sungguh beruntung memiliki seorang ibu yang juga pendengar yang baik. Apalagi, dengan sukarela mendengarkan segala macam teori dari anak perempuannya ini.
“Bu”, aku memulai pembicaraan. “Kebahagiaan itu gak masuk akal, ya.”
“Memangnya kenapa?”, tanya ibuku.
“Yah, logikanya kan, kalau kita punya duit banyak, bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan, kita akan bahagia. Tapi, nggak. Justru banyak orang yang kita pikir punya segalanya malahan ngerasa hampa.
Tapi anehnya, rasa bahagia itu justru datang ketika kita memberikan sesuatu yang berharga bagi kita pada orang lain dengan ikhlas”, jelasku panjang lebar.
Ibuku tampak manggut-manggut.
Aku melanjutkan, “Logikanya lagi, orang akan lebih bahagia kalau terkenal dan semua orang memuja dia. Makanya banyak orang yang berusaha segala macam cara untuk bisa populer. Tapi, banyak orang-orang terkenal dan selebritis terjebak pada narkoba bahkan sampai bunuh diri, hanya karena ngerasa kesepian di tengah keramaian.
Tetapi yang lebih aneh, rasa bahagia justru datang ketika rasa pengabdian muncul kepada Sang Khalik. Ketika bukan kita yang menjadi pusat dunia. Ketika kita berbagi. Ketika kita berkorban untuk sesuatu di luar diri. Ketika kita ngerasa cukup dengan apa yang kita miliki saat ini.”
“Kenapa bisa seperti itu?”, gugatku.
Ibuku tersenyum, lalu berkata “Karena…kebahagiaan itu pekerjaan hati”.
Aku terhenyak mendengar perkataan ibuku. Benar, kebahagiaan adalah pekerjaan hati. Bukan hitung-hitungan logika dan rasio. Oleh sebab itu, kebahagiaan tidak akan pernah masuk akal.
Aku tersenyum pada ibuku. Ia balas tersenyum dan mengambil koran yang tadi ia lipat. Membukanya, dan melanjutkan membacanya dengan tenang.

3 thoughts on “Kebahagiaan

  1. Salam bahagia Mirna.
    Agak kamu “memaksa” sy jd komentator, tak apa, sy senang kok, wlau sy tak punya ilmu.
    Tulisanmu makin mengalir dgn baik, cukup enak dibaca. Soal bahagia pekerjaan hati, ada benarnya. Tp pekerjaan hati amat dipengaruhi cara kerja logika, bila pikiran bersifat negatif, maka hati makin sensara, demikian sebaliknya.
    Mari berkunjung k e Profil saya di kompasiana.
    Saya tunggu komentarmu di situ.

  2. setuju bgt, itulah hati.. bagi orang moslem, hati dapat mengantarkn mereka pada takdir yang baek apabila kalbu mereka yang hidup dalam pikiran dan tindakan mereka. mereka memeliharanya dengan lima perkara..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s