Cerita · Diary

Rumah Mungil

“Anin!”
Terdengar langkah mendekat. Tak lama kemudian, “Ada apa, Mir?”, terdengar sahutan dari seberang dinding.
“Sedang apa, Nin?”, tanyaku setengah berteriak.
“Sedang masak mi”, jawabnya setengah berteriak pula.
“Pantesan, baunya sampai ke sini”, kataku seraya tersenyum kecil.

Begitulah yang terjadi hampir setiap hari antara aku dan sahabat kecilku, Anin yang tinggal di sebelah rumah. Dinding rumah kami yang berdempetan sering kugunakan sebagai sarana komunikasi antara aku dan Anin. Kebetulan ruang makanku tepat bersebelahan dengan ruang makannya sehingga seringkali mie yang ia masak (ia sangat suka mie instan) sering menyusup masuk melalui sela-sela dinding dan atap seng ruang makan kami. Dan, bila bau sedap itu sampai ke hidungku, aku pun mendekat ke dinding dan meneriakkan namanya. Tak lama kemudian dia akan menjawab panggilanku.

Rumahku dan rumah Anin termasuk dalam perumahan dinas BUMN pengelola Bandara Ngurah Rai, Bali. BUMN tersebut memang menyediakan rumah dinas untuk karyawannya. Perumahan dinas yang disediakan terdiri dari dua komplek di dua tempat yang berbeda. Aku menyebutnya Komplek Timur dan Komplek Barat. Aku pernah tinggal di kedua komplek tersebut, tetapi yang paling berkesan bagiku adalah saat tinggal di Komplek Timur. Maklum saja, sebelas tahun awal kehidupanku aku habiskan di sana.

Berbeda dengan perumahan di Komplek Barat yang besar dan luas, perumahan di Komplek Timur terdiri rumah-rumah kecil yang saling berdempetan. Terdapat tiga deret perumahan yang memanjang dari Barat ke Timur. Semua jalan di perumahan dinas dinamai dengan nama bandara-bandara di Indonesia, termasuk nama-nama jalan di Komplek Timur. Deret pertama dimana rumahku berada, berhadapan dengan Jalan Waioti. Deret pertama dan kedua saling memunggungi dan dipisahkan oleh jalan setapak kecil. Sedangkan deret kedua dan ketiga saling berhadapan dan dipisahkan oleh Jalan Sepinggan.

Letak rumahku pada deret pertama berarti rumahku berhadapan langsung dengan lintasan pesawat, yaitu hanya berjarak sekitar 300 meter dari landasan. Setiap hari memandang pesawat lalu-lalang sudah tak asing lagi bagi kami, apalagi mendengarkan gemuruh suara pesawat take-off dan landing yang memekakkan telinga. Terutama jika pesawat ultrasonik semacam “Concorde”, pesawat milik Perancis, yang mendarat. Suaranya yang begitu nyaring menggetarkan kaca perumahan hingga kaca-kaca itu hampir pecah. Tetapi bagiku yang telah terbiasa sejak kecil mendengarkannya, suara berisik itu bagaikan nyanyian yang… tidak merdu tetapi melengkapi hidup, demikian aku menyebutnya

Rumah-rumah di Komplek Timur selain saling berdempetan, juga memiliki ukuran yang lumayan kecil untuk sebuah rumah yang dihuni sebuah keluarga. Dengan luas tanah yang kurang lebih satu are, rumah inti hanya mendapat jatah sekitar 50 meter persegi. Sisanya dibagi antara pekarangan depan dan halaman belakang. Karena kecilnya rumah, sebagian besar warga memperluasnya dengan membangun pekarangan belakang. Tetapi tidak begitu dengan orangtuaku. Mereka membiarkan rumah inti seperti apa adanya. Alih-alih, mereka justru membangun dua buah rumah anggrek di pekarangan depan dan halaman belakang. Dengan kayu kamper, dinding kawat berjala, dan paranet, rumah anggrek itu berdiri. Ratusan pohon anggrek yang berada di dalamnya membuat rumahku menjadi salah satu yang paling hijau di komplek. Dalam rumah mungil nan hijau itulah aku tumbuh menjadi anak yang periang.

Seperti jamaknya anak kecil lainnya, aku pun sangat senang bermain. Permainan yang paling kusuka adalah permainan ‘mengikuti kakak’. Maksudnya, permainan apapun yang dilakukan oleh kakakku, aku suka. Ya, aku memang memiliki seorang kakak yang jarak umurnya hanya 22 bulan lebih tua dariku. Mas Nuzli, kakakku itu, adalah seorang role model-ku semenjak aku kecil. Mungkin karena dia adalah satu-satunya saudara kandung yang kupunya, maka aku sangat mengaguminya. Apapun yang ia lakukan, kemana pun ia pergi, aku akan menyertainya. Dan, jika ia pergi bermain bersama teman-temannya aku pasti ikut, termasuk ketika ia main silat-silatan (yang sering ia lakukan) bersama teman-temannya. Seperti jagoan cilik, aku menendang dan memukul kesana kemari. Tak jarang aku memenangkan permainan itu. Layaknya seorang pengikut setia, aku mengikuti kakakku itu. Sampai-sampai ketika dibelikan baju oleh ibu, aku selalu meminta agar dibelikan sama seperti kakakku, sebuah celana panjang dan kaos. Tetapi, aku tidak pernah memandang diriku kecil sebagai anak yang tomboy. Aku hanya seperti yang selalu kukatakan kepada ibu ketika itu “Pokoknya sama kayak Mas Nuzli”.

Mungkin, terkadang kakakku itu kesal karena selalu diikuti olehku sehingga pernah suatu hari ia pergi bermain tanpa aku. Aku menangis seharian sampai-sampai ayah memarahi Mas Nuzli dan menyuruhnya untuk selalu mengajakku jika ia pergi bermain. Dan, mungkin itu pula salah satu yang menyebabkanku ingin setara dengannya. Terpukul saat main silat-silatan tidak menangis. Jatuh dari pohon hanya meringis. Betis tergores semak saat melakukan permainan ‘bertualang’, tetap harus tegar. Semua itu agar Mas Nuzli tidak kapok mengajakku main. Dan, tujuanku tercapai. Kakakku tidak pernah enggan mengajakku bermain lagi. Bahkan, mungkin aku tidak pernah dianggap sebagai adik perempuannya.

Saat usiaku mencapai sebelas tahun, kami sekeluarga harus pindah ke Komplek Barat karena ayah naik jabatan. Walau rumah tempat aku pindah itu lebih besar dan lebih luas dari rumah di Komplek Timur, terkadang aku masih merindukan rumah mungil itu. Jika aku melewati perumahan Komplek Timur, aku akan menoleh sekilas dan mencari rumah tempatku dibesarkan. “Deret pertama. Rumah kedua dari Barat”, ujarku dalam hati saat memandangi deret perumahan Komplek Timur. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku karena rumah anggrek yang dibangun orangtuaku sudah tidak ada, sehingga aku khawatir melewatkannya ketika aku mencoba mencarinya.

Sayangnya, kini walau aku masih mengingat kata-kata itu, rasanya sudah tidak ada gunanya lagi. Aku sudah tidak bisa memandang ataupun mengunjungi rumah itu lagi. Sekitar dua tahun lalu, demi perluasan Bandara, Komplek Timur telah diratakan dengan tanah dan sebuah jalan raya telah dibangun di atasnya. Sebuah jalan menuju Bandara. Sekarang setiap melintasi jalan raya itu, aku hanya bisa mereka-reka dimana letak rumahku dulu. Dan, walaupun kini aku tidak bisa menemukannya dimanapun, keping-keping kenanganku akan rumah itu akan terus melekat di diriku…selamanya.

2 thoughts on “Rumah Mungil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s