Cerita · Diary

Panggil Aku Mirna

Panggil aku Mirna. Lengkapnya, Mirna Rizka. Percaya atau tidak, dulu aku sangat membenci nama itu. Penyebabnya sepele. Dulu, ketika aku masih remaja, aku sering ikut acara request lagu di radio. Ketika menelepon ke stasiun radio itu dan mereka mendengar namaku, mereka akan berkomentar “Wah, nama kamu sama dengan pedangdut ternama, ya”, atau berkata, “Nama panjangmu Mirnawati, ya?”, ataupun bertanya usil “Yakin kamu bukan pedangdut itu?”. Tanpa meremehkan jenis musik yang merakyat itu, aku sungguh tidak suka jika dipanggil Mirnawati.

Mirna. Bapakku yang memberi nama itu. Katanya, nama itu adalah nama sahabatnya ketika masih kecil. Sahabatnya itu keturunan Belanda. Walaupun bapak berkata begitu, tetap saja terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan sahabatnya itu adalah cinta pertamanya. Maka dari itu aku dinamakan seperti nama cintanya yang hilang. Ketika hal itu kutanyakan pada bapak, ia mengelak dan berkata, “Masak anak SD sudah mengenal cinta-cintaan?”. Lalu. bagaimana dengan ibuku. Apakah ia mengetahui hal ini? Apakah tidak timbul rasa cemburunya ketika suaminya memberi nama anak gadisnya sama dengan nama ‘sahabat kecilnya’? Aku yakin tidak. Kau belum mengenal ibuku. Ia adalah seorang yang rasional dan praktis. 99% tidak memiliki rasa cemburu (tapi masih ada 1%, lho. Jadi masih manusiawi, kok).

“Baiklah, aku bisa terima jika aku dinamakan seperti nama teman bapak. Tapi, apa arti namaku, ya?”, begitulah pikirku suatu waktu. Aku percaya bahwa nama adalah doa. Aku diberi nama seperti itu tentu karena ada harapan di dalamnya. Tapi, apa yang terjadi ketika hal itu kutanyakan pada bapak? Ia hanya menjawab, “Bapak tidak tahu. Bapak memilih nama itu karena nama itu terdengar bagus dan jarang ada orang yang menggunakannya”. Ya memang, bapakku adalah seorang yang unik atau menganggap dirinya begitu. Ia tidak suka jika sama dengan orang lain. Pernah suatu hari ia membeli sebuah sepeda gayung. Ia memakainya untuk pergi ke kantor. Alasannya karena hemat bensin, sehat, dan lagipula kantornya memang tidak berada jauh dari rumah. Jadilah setiap hari ia berangkat ke kantor dengan mengendarai sepeda gayung kesayangannya itu. Dua bulan kemudian, aku melihat sepeda itu telah teronggok di sudut rumah. Bapak kembali memakai sepeda motor lamanya untuk pergi ke kantor. Aku pun bertanya apa yang terjadi dengan sepedanya. Apakah sepeda itu rusak atau bagaimana? Dan dengan entengnya ia menjawab, “Habisnya di kantor sudah ada beberapa orang yang membeli sepeda. Mereka sekarang juga pulang-pergi kantor dengan mengayuh sepeda”. Rupanya, saat ia menaiki sepeda ke kantor, beberapa temannya yang heran bertanya padanya mengapa sekarang pulang-pergi kantor dengan naik sepeda. Dan, bapak menjawab dengan bangga, “Karena dengan naik sepeda, kita bisa jadi lebih sehat. Apalagi untuk orang-orang seumur kita ini, perlu banyak olahraga agar jantung kita kuat dan sehat”. Mendengar penjelasannya, teman-temannya menjadi tertarik dan membeli sepeda juga. Mereka pun mengikuti jejak bapak, bersepeda ria menuju kantor. Melihat banyak temannya yang naik sepeda, bapak merasa bersepeda sudah tidak menarik lagi. Sudah tidak unik. Jadi, ia tidak bersepeda lagi jika ke tempatnya bekerja.

Melihat sifatnya ini, rasanya percuma saja berharap ia tahu arti namaku. Aku harus mencarinya sendiri. Dan, dimulailah perburuan mencari arti namaku. Misi ini aku awali dengan mencari tahu apakah di sekitarku ada yang bernama Mirna juga. Harapanku adalah mungkin orang lain yang benama Mirna itu mengetahui arti namanya. Tetapi, sejak aku SD hingga kuliah, tidak kutemukan seorang pun yang bernama sama denganku. Paling tidak yang satu angkatan denganku. Kuakui, memang sulit untuk mencari nama ‘Mirna’ di Bali. Yang banyak adalah Kadek, Ketut, Putu, Komang dan sebagainya. Orang Bali jarang yang memberi nama Mirna untuk anaknya.

Langkah selanjutnya adalah berburu buku nama-nama bayi di toko buku. Setiap ada kesempatan ke toko buku, aku pergi menuju rak buku khusus untuk panduan mengasuh anak. Di antara rak-rak yang berjejer tersebut, kutemukan beberapa buku nama-nama bayi. Kubuka satu per satu. Kucari nama yang dimulai dengan huruf ‘M’. Kutelusuri satu-satu. Hasilnya…nihil.

Rasa penasaranku menghebat. Aku tidak boleh menyerah. Walaupun kedengarannya sepele, tetapi bagiku mengetahui arti namaku sama saja dengan mengetahui harapan apa yang disandangkan pada diriku. Namaku adalah bagian dari jati diri yang membentuk aku, sama pentingnya dengan seluruh latar belakang yang telah membentukku hingga menjadi diriku saat ini. Mana boleh menyerah kalah dalam mencari identitas.

Perburuan kulanjutkan dengan pergi ke perpustakaan daerah yang ada di pusat kota. Letaknya kira-kira 15 kilometer dari rumahku. Perpustakaan itu cukup luas. Gedungnya bertingkat empat dengan gaya Bali yang kental. Bangunannya berdiri megah penuh dengan ukir-ukiran khas Bali yang terpahat di dinding batunya. Di sana, kutelusuri rak-raknya yang berdebu satu persatu. Kuperhatikan setiap judul buku. Kemudian, mataku tertancap pada sebuah buku. “Nama-nama Bayi” tertera di judulnya. Kuambil buku itu. Kubuka halaman-halamannya. Kucari nama-nama yang dimulai dengan huruf ‘M’. “Maria…Miranda…Moirne nama lainnya adalah Moira, Mirna”. Voila, pencarianku tidak sia-sia. Hatiku menjerit gembira.

Dengan girang kubaca nama itu. “Moirne, nama lainnya adalah Moira, Mirna. Berasal dari bahasa Irlandia kuno yang artinya adalah Yang Tercinta”. Wah, ternyata arti namaku bagus juga. Romantis dan puitis. Berasal dari bahasa yang kuno pula.

Saat aku mengetahui arti namaku itu, aku tahu harapan dan doa apa yang disematkan untukku. Agar aku menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, sehingga aku dicintai oleh orang lain, agar aku dapat berjalan di hati setiap orang yang mengenalku. Selesai sudah satu misi dalam mencari identitas diri.

Penemuanku ini akan kubagi dengan orang lain, terutama bapak. Ia perlu mengetahuinya agar ia tahu doa apa yang telah ia panjatkan untuk anaknya. Dan, tahukah kau apa reaksinya ketika aku memberitahu arti namaku kepadanya? Ia hanya manggut-manggut sambil berkata, “Oh, ternyata bagus juga ya, arti nama yang ayah berikan padamu itu”. Hemm…dasar bapak!

Tapi, pencarian ini memberiku sebuah pelajaran berharga tentang perjuangan tanpa henti dalam mencari identitas diri. Jadi, ketika ada seseorang yang berkata “Apalah arti sebuah nama?”. Bagiku, “Berarti banget!!!”.

6 thoughts on “Panggil Aku Mirna

    1. iya, rizka dari kata rizki. kenapa bkn rizki dan jadi rizka? itu pertanyaan lain untuk bapakku. yang pasti itu juga sering ditanyain orang2 ke aku *sigh*

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Mirna_%28nama%29

    Mirna (Kroasia/Mirna Serbia/Мирна) adalah suatu nama yang diberikan kepada wanita yang berasal dari Kroasia dan Serbia. Nama ini diperoleh dari bahasa Slavia yaitu dari kata mir, yang mempunyai arti “damai”. Dalam bahasa yang lain nama ini dapat juga berarti “lembut”. Terkadang nama Mirna juga dianggap sama dengan nama ‘Myrna’ (/myrrhna/), yang bukan berasal dari Slavik, namun berasal dari Celtic yang berarti “yang disayangi.”

    anyway, nama saya juga mirna :D

    1. Waahh… Saya baru tahu ini! Makasih banyak ya sudah ngasih tahu. Jadi makin suka sama nama sendiri. Padahal saya pikir awalnya nama saya ini aneh, karena orang2 sekitar gak ada yang nyamain. Tapi, bagus juga kan karena jadi unik. Sekarang ditambah tahu asal-usulnya, jadi makin seneng :”>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s