Diary

Selamat Jalan, Mbak Ning…

Pagi ini ibuku membangunkanku seraya berbisik, “Dik, Mbak Ning meninggal”. Aku sontak terbangun dan berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”.
Mbak Ning. Ia adalah ibu dari sahabatku, Anin. Tetapi, hubungan kami lebih dari sekedar ‘ibu dari sahabatku’.
Keluargaku dan keluarga Anin bertetangga sejak aku masih kecil. Seingatku kami bersebelahan rumah selama lebih dari 11 tahun saat masih tinggal di blok Timur. Dan, saat kami pindah ke perumahan di blok barat, kami juga masih satu kompleks dengan mereka.
Saat tinggal di blok timur, kami seperti satu keluarga. Rumah di perumahan blok timur yang mungil dan berdempetan, menjadikan hubungan bertetangga sangat dekat dan harmonis.
Setiap hari tak pernah kulewatkan hariku tanpa pergi ke rumah sahabatku, Anin. Ibuku bekerja seharian, dari pagi hingga petang. Sedangkan ibunya Anin, seorang ATC (pengatur lalu lintas pesawat), bekerja dalam jam shift. Tetapi, ia sering di rumah. Jadilah aku yang sangat sering bermain ke rumahnya, bertemu dengannya, bahkan kemudian menganggapnya sebagai ibuku sendiri.
Mengapa aku dan kakakku memanggil ibunya Anin sebagai Mbak Ning dan bukannya Tante selaiknya teman-temanku, tentu ada ceritanya tersendiri. Dulu, aku dan kakakku memanggilnya tante. Mbak Ning adalah orang yang sangat ceria dan ramah. Temannya banyak dan sering berkunjung ke rumahnya. Semua temannya memanggilnya Mbak Ning. Aku dan kakakku yang saat itu masih sangat kecil, dengan pikiran polos kami, berkata “Kenapa mereka memanggil Mbak Ning? Sedangkan kami harus memanggil Tante?”.
Pikirku saat itu, kami sangat dekat dengannya. Bahkan menurutku lebih dekat dari semua teman-temannya itu. Dan saat kuajukan pertanyaan itu padanya, ia hanya tertawa dan berkata, “Ya sudah, kalau kamu sama Mas Nuzli mau, panggil saja Mbak Ning, sama seperti teman-teman tante, kan”.
Sejak itulah, aku dan kakakku memanggilnya Mbak Ning.
Mbak Ning adalah seorang ekstrovert. Ia suka bicara, bercerita, dan jika tertawa hingga terbahak-bahak. Jiwanya hangat. Saat aku kecil dan bermain ke rumahnya, aku diperlakukan tidak berbeda dengan anak-anaknya. Pada waktu ia memasakkan Anin mi rebus, ia akan membaginya menjadi dua mangkuk dan menyerahkan mangkuk itu untukku dan Anin. Ia juga sering membiarkanku tidur siang di rumahnya dan bermain dengan mainan anak-anaknya.
Oh ya, ia sering menyebutku dengan sebutan ‘Nenek’. Pasalnya, aku sering sekali menasihati Anin sama seperti Ibuku menasihatiku. Jika ia melihatku melakukan itu, ia akan tertawa sambil berkata, “Nenek…nenek…”.
Tetapi, semua itu kini hanya tinggal kenangan. Kenangan yang rasanya baru kemarin terjadi. Selamat jalan, Mbak Ning. Semoga Allah menerima semua amal ibadahmu dan menerimamu di sisi-Nya. Aku sungguh kehilanganmu. Dan, sudah mulai merindukanmu. Selamat jalan, ibuku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s