Cerita · Diary · Postingan GaJe

Kecoa

Aku benci kecoa!

Menurutku kecoa adalah binatang paling menjijikkan sedunia.  Selain karena tempat hidupnya yang kotor, ada sebab lain kenapa aku membenci hewan ini.

Dulu, reaksiku terhadap kecoa biasa-biasa saja. Tidak suka. Juga tidak benci. Sama seperti anggapanku terhadap hewan-hewan yang lain. Tetapi, beberapa kejadian mengubah persepsiku tentang Si Kecoa ini.

Waktu aku kelas 2 SD, saat sedang dikamar mandi, entah karena apa (menurut tebakanku, mungkin sarangnya kebanjiran), banyak sekali kecoa yang keluar dari lubang pembuangan air. Waktu aku bilang banyak sekali, itu berarti BANYAK SEKALI! Mereka seperti mencari tempat yang lebih tinggi. Aku yang merasa kaget, sontak naik ke atas kloset. Dan celakanya, mereka berlarian menuju ke arahku, ke arah kloset juga.

Saat itu, saking shock-nya aku menjerit sejadi-jadinya. Ibuku segera masuk ke kamar mandi dan melihatku berdiri di atas kloset yang tidak berani bergerak selain berteriak. Segera ia menyuruh pembantuku mengambil sapu lidi dan sebuah serok. Dipukulinya mereka satu-persatu, hingga satu serok penuh oleh bangkai mereka. Wuih, saat ini membayangkannya saja aku masih merasa jijik.
Tapi, tidak cukup hanya sampai di situ kejadian yang membuatku trauma terhadap Sang Kecoa.

Saat aku kelas 6 SD, kami sekeluarga baru saja pulang dari Jawa dalam rangka mudik Lebaran. Saat tiba di daerah Gilimanuk hari sudah sore. Segera kami sekeluarga mencari tempat untuk sholat. Waktu itu, di daerah Gilimanuk, belum banyak ada masjid dan musholla. Kami hanya menemukan sebuah mosholla kecil di pinggir jalan. Kami pun masuk.

Ternyata musholla itu kurang terjaga kebersihannya. Mungkin karena musholla jadi tidak ada yang menjaga dan membersihkannya. Tapi, kami tak menghiraukannya. Kami pun mengambil air wudlu dan segera sholat.

Di tengah-tengah sholat, aku merasakan hal yang aneh. Geremet-geremet geli di daerah perutku. Kutahan hingga sholat berjamaah usai.

Begitu usai, dengan cepat kubuka mukenaku, kusibak bajuku, dan… di sanalah bertengger dengan manis Si Kecoa. Kontan, aku panik dan menjerit. Semua keluarga terkejut dan turut berusaha mengusir binatang kecil itu.

Sampai sekarang, saat aku mengenangnya, aku merasa heran. Bagaimana bisa seekor kecoa alim (kubilang alim karena ia tinggal di musholla) rela meninggalkan musholla dan ingin ikut denganku. Apakah ia naksir padaku? (Oke, walaupun dia naksir, tapi aku ogah. Pokoknya OGAH!)

Dan, begitulah yang terjadi setiap kali aku melihat kecoa. Berlari menghindar, naik ke atas kursi atau meja, kemudian berteriak histeris.

Tapi, itu hanya berlaku jika ada orang di dekatku, yang bisa kumintai tolong menyingkirkan binatang kotor itu. Jika tidak, aku berubah 180 derajat. Entah darimana, tiba-tiba timbul keberanianku. Dalam benakku hanya ada kalimat “Kecoa ini harus mati. HARUS!”.

Dan, berubahlah aku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin, yang menggunakan apa saja yang ada di dekatnya untuk membunuh sang target, Si Kecoa. Mulai dari menyemprot Baygon, memukulkan sapu, hingga menginjaknya dengan sandal sampai gepeng. Jika Si Kecoa sudah gepeng dan tak berbentuk lagi, baru lega rasanya. Sadis, ya.

One thought on “Kecoa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s