Diary · Renungan

Sebening Embun

8

Saat aku duduk di bangku kelas 5-6 SD, aku menyadari suatu keindahan. Di depan kelas 3, ada sebatang pohon bambu. Bukan jenis bambu yang tinggi dan besar. Bentuknya seperti semak. Batangnya kecil dan ramping. Tidak terlalu tinggi. Daunnya kecil, panjang. Secara keseluruhan, baik warna batang dan daun, berwarna kekuningan. Tetapi, bukan pohonnya yang istimewa. Tetapi apa yang ada padanya pada pagi-pagi tertentu.

Saat pagi dingin dan lembab, ratusan embun bergelayut di tiap pucuk daunnya. Iya, embun pagi. Warnanya bening. Bentuknya bulat, menempel rapuh di ujung daun. Seakan sebentar lagi akan jatuh ke tanah. Sangat indah saat diterpa sinar mentari pagi yang masih malu-malu. Embun membuat pohon bambu yang sederhana itu bagaikan pohon natal yang gemerlap dengan ratusan cahaya. Bahkan, lebih indah dari itu.

Aku sangat senang mengulurkan punggung tanganku perlahan-lahan ke arah bulir-bulir rapuh itu. Takut untuk merusak bentuknya. Saat aku berhasil, ia akan berada di atas punggung tanganku, bulat sempurna, bagaikan butiran berlian.

Itulah yang membuatku kagum. Bagaimana bisa, sebuah keindahan datang dari sebuah kesederhanaan. Bagaimana bisa, embun yang bisa ada dimana-mana, tak perlu merogoh kocek untuk melihatnya, dapat menggerakkan hati. Seindah berlian, tetapi sedikit sekali yang menyadarinya. Bagaimana bisa, mereka lebih tertarik pada berlian dan sama sekali tidak menyadari keberadaan embun ini. Padahal, bening warnanya seakan tulus menyentuh hati. Kebersahajaannya bagaikan cermin bagi hati yang sombong. Sejuknya mampu meredam luka dalam hati.

Tetapi, saat ku renungi lebih dalam, ia bukannya tidak berharga. Bahkan, sangat berharga, hingga tak dapat dinilai dengan uang. Jika kita memiliki uang banyak, mungkin kita dapat membeli berlian yang kita mau. Tetapi, sedalam apapun kita merogoh kocek, takkan dapat menghadirkan embun. Sebab embun ada karena ia memang ada. Bukan karena kita ingin ia ada. Atau tidak ingin ia ada.

2 thoughts on “Sebening Embun

    1. Ya… terkadang yang tidak dapat dinilai dengan uang, bukan berarti sesuatu yang tidak berharga.
      Justru saking berharganya, bahkan uang pun tak dapat menakar nilainya… :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s