Buku · Cerita · Diary · Renungan

OPTIMIS ATAU PESIMIS??

10

1. Mungkin gak selalu terjadi hal yang buruk pada diri kita dalam satu hari?

2. Mungkin gak selalu terjadi hal yang baik pada diri kita dalam satu hari?

Aku mendapati kedua pertanyaan ini pada sebuah majalah remaja beberapa tahun yang lalu pada usia rawan remajaku. Aku tahu pertanyaan ini untuk mengetahui apakah kita adalah seorang yang optimis ataukah sebaliknya, seorang yang pesimis. Tapi, aku menjawabnya juga, dan jawabanku ketika itu adalah ‘1’ mungkin, ‘2’ gak mungkin. Yap, saat itu aku seperti mengumumkan pada dunia kalau aku adalah orang paling pesimis sedunia.

Seiring dengan waktu aku mulai tumbuh dewasa. Banyak hal terjadi padaku dan membuatku banyak berubah. Tapi, pertanyaan itu selalu saja terngiang di kepalaku. Dan saat ini aku menanyakannya kembali pada diriku sendiri. Aku menjawab ‘1’ dan ‘2’ mungkin.

Tapi, dengan segala yang terjadi padaku dan semua hal yang kupelajari, sesuatu mendesakku untuk menganalisisnya dengan lebih mendalam lagi.

1. Mungkin gak selalu terjadi hal yang buruk pada diri kita dalam satu hari? Gak mungkin selalu terjadi hal buruk pada diri kita dalam satu hari. Walaupun banyak kejadian buruk yang terjadi pada diri kita, selalu ada banyak hal kecil yang bisa kita syukuri. Masih bisa melihat dengan baik mungkin, atau bisa bernafas dengan lancar. Masih dikaruniai kesehatan. Hal-hal kecil yang kita anggap remeh dan sudah sewajarnya. Hal yang ketika kita kehilangan baru kita merasakan betapa istimewanya ia.

Dan jika direnungkan dengan lebih mendalam lagi, bahkan hal yang buruk pun dapat menjadi hal yan baik. Mungkin kita tak menyadarinya sekarang tapi sekian lama setelah kita bisa mengambil hikmahnya kita akan tersadar bahwa itulah yang terbaik untuk diri kita.

Bahkan seorang sahabat rasul pernah berkata, ‘Jika sakit aku bingung harus bersyukur atau mengeluh, karena sakitku akan dapat mengurangi dosaku jika aku sabar menghadapinya.’

Dan yang pernah Baginda Rasul bersabda, ‘Sungguh indah urusan orang muslim, jika ia mendapat cobaan dan ia bersabar maka itu baik baginya dan jika ia mendapat nikmat dan ia bersyukur maka itu baik untuknya.’

Hal yang sama juga tercantum dalam Al Qur’an, yang isinya menyebutkan bahwa apa-apa yang dikira baik oleh seorang hamba padahal Allah tahu itu tidak baik baginya, dan apa-apa yang dikira buruk oleh seorang hamba padahal Allah tahu itulah yang terbaik baginya.

Firman Allah ini tergambar dari karya Paulo Coelho ‘The Alchemist’. Cerita tentang seorang anak yang ingin menjelajahi dunia. Karena itu ia memutuskan untuk menjadi seorang penggembala domba sehingga sambil menggembala ia bisa menjelajahi padang-padang rumput seluruh negeri.

Setelah beberapa tahun menjalani pekerjaan itu ia menjadi terikat dengan domba-dombanya. Pada suatu malam ia bermimpi mendapat petunjuk adanya harta karun di negeri yang ada piramidnya, Mesir. Mimpi itu berulang selama berhari-hari. Ia diyakinkan oleh beberapa orang jika mimpinya adalah benar. Tetapi untuk pergi ke Mesir yang letaknya di seberang lautan ia harus meninggalkan domba-dombanya.

Pada akhirnya, ia mengikuti mimpinya karena tersadar bahwa dulu ia memutuskan untuk menjadi penggembala karena ingin menjelajahi dunia. Kini panggilan jiwa itu datang untuk sebuah alasan. Ia memberanikan dirinya untuk menyeberangi lautan dan tiba di negeri yang sama sekali asing dengan bahasa yang sama sekali berbeda.

Pada hari pertama di negeri itu, ia tertipu. Seluruh uang hasil menjual dombanya ludes dibawa penipu. Ia merasa kecewa dengan takdir yang mempermainkan dirinya. Kini untuk kembali ke negerinya saja ia tidak bisa. Dengan perut kelaparan ia mendaki bukit dan mengetuk pintu sebuah toko kristal untuk mencari pekerjaan sehingga ia dapat membeli makanan. Sang pemilik toko yang baik, membelikannya makana tetapi sang anak bersikeras untuk tetap bekerja padanya. Banyak ide-ide dari sang anak yang diterapkan pemilik toko itu pada tokonya selama beberapa waktu si anak bekerja di sana. Ide-ide itu begitu brilian sehingga tokonya yang sepi berubah menjadi ramai dan maju pesat. Pemilik toko yang senang, membagi keuntungannya pada sang anak. Sang anak kini memiliki uang yang lebih banyak dari ketika ia datang ke negeri itu.

Bisa dilihat di sini, jika sang anak itu tidak kehilangan uangnya, ia tidak akan bekerja di toko kristal itu dan menghasilkan uang yang lebih banyak lagi. Dan dengan uang tersebut sebenarnya ia dapat kembali ke daerah asalnya, kembali ke domba-dombanya. Tetapi, tidak. Yang ia lakukan adalah meneruskan perjalanan untuk mewujudkan mimpinya. Dan, ia berhasil.

Jadi, bahkan hal yang kita anggap buruk pun ternyata sesuatu yang baik. Hanya karena kita tidak tahu saat itU, maka kita menganggapnya buruk. Maka, seharusnya kita berani berujar bahwa ‘tidak mungkin selalu terjadi hal yang buruk pada diri kita dalam sehari karena semuanya baik!’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s