Diary · Renungan

Jiwaku

Bulan pucat menaungi alam. Cahaya keperakan menyelimutinya. Gelap. Sunyi. Malam mencekam. Aku tidak bisa tidur lagi malam ini. Menatap kosong keluar jendela kamarku. Termenung. Berpikir, apalagi yang hendak kupikirkan. Aku merasa hampa. Aku merasa mati rasa. Begitu banyak rasa telah berlalu. Masing-masing meninggalkan kesan. Sebagian meninggalkan luka. Luka yang terkadang kembali meradang.

Aku tahu apa yang akan kupikirkan. Untuk malam ini. Dan jika tak usai, akan kupikirkan lagi esok. Ketika kantuk tak datang jua.

Aku akan berpikir tentang jiwaku. Seperti apakah jiwaku, tanyaku. Aku memang tak pernah tahu wujudnya. Tapi, aku bisa merasakannya. Sungguh, aku bisa merasakannya. Aku merasa ia tak pernah sama. Selalu berubah.

Dulu, ketika usia remaja manghampiriku, jiwaku terasa panas. Panas seperti api. Selalu bergelora. Ingin lepas saja dari wadahnya. Tak peduli dengan cara apa. Seakan dunia ini tak pernah cukup untuknya. Susah payah aku seringkali meredamnya. Berkali-kali nyaris gagal. Lalu rasa-rasa yang mengerikan itu akan muncul.  Dari dalam diriku sendiri. Rasa ingin pergi. Rasa ingin sendiri. Rasa ingin…mati. Sungguh mengerikan.

Syukurlah, ketika beranjak dewasa rasa itu berangsur sirna. Jiwaku mulai tenang. Tidak panas dan bergelora lagi. Menjadi hangat dan bersahabat. Mulai merasakan indahnya dunia. Indahnya cinta. Kadang ia terluka juga. Tak apa, akan menjadi bekas yang indah. Suatu hari nanti, paling tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s