Cerita · Diary · Puisi

Joker

Wajah coreng-moreng penuh dengan make-up warna-warni.

Topi berjumbai dengan lonceng-lonceng kecil menjuntai.

Suara gemerincing berbunyi tiap kali ia menoleh ke kanan dan kekiri.

Kostumnya selalu meriah dengan warna-warna yang mencolok.

Sepatunya runcing laksana terompah Aladdin.

Ia selalu tersenyum.

Menelengkan kepala seolah tak mengerti arti kesedihan.

Berjalan berjingkat seperti anak kecil yang riang.

Selalu melontarkan lelucon konyol.

Bahkan orang-orang pun telah menganggap keberadaannya adalah sebuah lelucon.

Ia membuat seisi istana gembira.

Telah menghibur banyak orang dengan tawa yang ia tawarkan.

Namun, saat topi bergemerincing dilepas.

Saat make-up tebal di wajahnya dihapus,

Sang Joker pun seorang manusia biasa.

Ia pun dapat merasakan kesedihan.

Ia pun tak dapat menghindar dari kegetiran hidup.

Dan merasakan kepedihan cinta.

Tapi, jauh dalam hatinya yang tulus,

ia hanya ingin membuat orang lain bahagia.

Karena itulah, ia memilih menjadi seorang Joker.

2 thoughts on “Joker

  1. I see. A different kind of joker in your eyes… :) tapi kita sama dalam hal, joker berusaha membangun image-nya sebagai orang yang selalu ceria, tapi ternyata dia tidak selalu begitu. Atau memang itu takdir yang harus diterima sang Joker karena ia telah bersedia menjadi joker. Entah itu anugerah atau kutukan. Entahlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s