Angkutan Umum di Bali

Baca blognya Mbak Ria (Hidupku di Buzz), saya jadi mikir, ribet banget ya hidup di ibukota. Naik angkutan umum saja perlu perjuangan sampai segitunya. Terus, jadi teringat sama pulau yang saya tempati sekarang. Dan ternyata, angkutan umum di sini tidak lebih baik dari Jakarta.

Bisa dibilang, Bali tidak mempunyai angkutan umum dalam kota (terutama Badung dan Denpasar). Well, sebenarnya punya sih, tapi sama sekali gak bisa diandalkan. Bemo (Becak Motor) adalah nama angkutan umum di sini. Dulu, sewaktu saya kecil, angkutan semacam ini ada banyak. Karena kendaraan pribadi masih jarang, jadi bemo pun menjadi andalan untuk pergi dan berkeliling kota.

Sebenarnya, masalah klasik angkotan kota ini sudah berlangsung sejak dulu. Bemo-bemo ini sering ngetem terlalu lama untuk mencari penumpang. Mereka tidak akan berangkat sebelum penumpang di mobil penuh. Jadi, angkutan ini tidak memiliki jadwal pasti (tipikal angkutan umum di Indonesia), hanya mengandalkan penuh-tidaknya penumpang.  Mungkin jaman dulu tidak terlalu masalah. Penumpang mudah didapat karena bemo adalah satu-satunya andalan untuk bepergian. Paling lama mungkin menunggu selama setengah jam. Namun, karena saat ini kendaraan pribadi sudah banyak, ngetemnya bemo ini bisa mencapai berjam-jam! Terakhir kali saya naik bemo saat SMU (biasanya saya naik motor kalau sekolah, tapi karena sesuatu dan lain hal terpaksa saya pulang sekolah dengan bemo). Dan, saya harus menunggu selama lebih dari 3 jam sebelum bemo itu berangkat! Kalau tidak teringat jarak sekolah-rumah yang lebih dari 20 kilo, mungkin saya sudah memilih untuk jalan kaki saja. *sigh*

Selain itu, rute yang terpampang di dalam bemo juga tidak pernah bisa diandalkan. Bemo-bemo itu pergi sebagaimana mood supirnya saja. Jadi, saat memberhentikan sebuah bemo, kami harus bertanya dulu bemo itu akan pergi ke arah mana. Tak jarang juga terjadi, saat awal berangkat bemo itu menuju ke arah Tuban. Lalu, karena sepi penumpang, supir berubah rute menuju Jimbaran. Nasib penumpang yang hendak menuju ke Tuban? Ya diturunkan di tengah jalan. Terkadang kalau supirnya baik, uang angkotnya dikembalikan setengahnya, tergantung sudah sampai di mana. Penumpang tentu tidak bisa banyak protes, karena mereka tidak punya pilihan lain.

Nah, masalah mulai terjadi saat harga BBM naik. Saya ingat waktu itu saya masih SMP. Saya dan kakak pulang dari rumah adik perempuan bapak di Denpasar. Seperti biasa, kami menumpang bemo untuk sampai ke rumah. Kami pun naik dengan santai, dengan anggapan ongkos bemo masih tetap 2000 rupiah. Namun, sesampai di Tuban, para penumpang justru disuruh membayar 6000 rupiah. Naik tiga kali lipat! Dan, kenaikan ini tidak ada pemberitahuan sebelumnya, entah dengan memasang pengumuman di bemo atau pada waktu penumpang menaiki mobil. Walau ada yang memaki dan protes, supir dan kondektur tetap tak peduli. Mereka bersikukuh menaikkan ongkos dengan alasan kenaikan haraga BBM. Beberapa minggu kemudian, saya malah mendengar kalau ongkosnya naik sampai 10 ribu rupiah!

Entah mungkin karena para penumpang yang sudah jengkel dan tak tahan lagi dengan perilaku seenaknya ini, atau karena dealer sepeda motor yang promosi besar-besaran, banyak yang kemudian membeli sepeda motor. Kalau dikalkulasi, memang sih ongkos angkot sebulan sama dengan cicilan motor sebulan. Hanya, mungkin uang pangkalnya saja yang jadi masalah (plus bensin setiap harinya, tentu saja). Tapi, kalau menghitung kerugian di bidang waktu (telat sampai ke kantor, rusaknya jadwal, dsb), naik motor jelas lebih menguntungkan.

Itulah sebabnya, kini bemo sudah mulai jarang kelihatan. Hanya segelintir pengusaha angkutan ini yang sanggup bertahan. Masalah ngetem sepertinya masih menjadi masalah klasik sampai saat ini. Kalau soal ongkos, saya kurang tahu lagi karena sejak kejadian menunggu selama tiga jam waktu SMU dulu, saya tidak pernah naik angkutan ini lagi. Saya benar-benar kapok!

Intinya, saya pikir penyebab ‘kejatuhan’ bemo-bemo di Bali ini adalah karena mereka sendiri. Mereka melakukan tindakan bunuh diri dengan berlaku seenaknya dan tidak dapat diandalkan seperti itu. Tapi, terus terang saya takut. Kalau seperti ini terus-menerus–angkutan umum yang tak bisa diandalkan dan orang-orang yang terus membeli kendaraan pribadi–saya khawatir, suatu saat Bali akan sama seperti Jakarta. Padatnya kendaraan pribadi akan menyebabkan kemacetan total. Ketakutan saya ini tidak berlebihan lho, karena sekarang pun tanda-tanda ke arah sana sudah mulai terlihat.

PS: Saya terkadang malu sama teman yang ingin backpacker-an ke Bali. Kalau mereka tanya naik angkutan umum apa kalau mau ke daerah-daerah wisata di Bali, saya malu sekali kalau harus bilang ‘gak ada angkutan umum di sini’. Paling banter saya hanya bisa menyarankan mereka untuk menyewa motor saja. Padahal itu juga tidak memecahkan masalah, sebenarnya. Jalan-jalan di Bali yang berliku, naik-turun bukit (untuk di luar kota Denpasar), tentu sangat melelahkan jika harus ditempuh dengan motor. Tapi, yaa… mau gimana lagi?

PS lagi: Kapan ya, Bali punya angkutan massal kayak gambar di atas? (gambar dari sini)

About these ads

5 pemikiran pada “Angkutan Umum di Bali

    • Blog saya gak segitu ramenya kok mbak, buat dige-erin… hehe…
      Jangan, mbak. Jangan nyobain bemo di Bali. Entar malah kapok datang ke Bali, lagi. :P

  1. Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Terima kasih buanyak.

    Ulasan tentang angkutan ini sangat menarik.
    Ulasan ini juga sangat membantu khususnya orang dari luar Bali yang berniat ke Denpasar Bali untuk tidak terjebak dalam ke keruwetan transportasi disana.

    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  2. terimakasih,
    ada pengetahuan baru nih, ada rencana ikut seminar IT di bali. nyari2 informasi tentang anngkutan umum di bali/denpasar, mampir disini
    ;-( jujur saya ikut sedih tentang situasi angkutan umum nasional.
    jelas yang salah ada di pelaku jasa angkutan umum, yang seenaknya (seperti yg anda sebutkan) juga kesalahan terdapat regulasi pemerintah yang sangat longgar atas rayuan para produsen kendaraan bermotor.

    • Sebenarnya info tentang angkutan ini gak update, lho. Sejak sebulan lalu sudah ada bus trans (namanya Bus Sarbagita), yang melayani rute Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan. Walau mungkin tidak bisa mengantar sampai tepat di depan daerah tujuan wisata, tapi sudah lumayanlah daripada tidak ada angkutan umum sama sekali. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s